Herbalis HIV/AIDS
Herbalis HIV/AIDS
Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia sangat berlimpah ruah. Beraneka ragam tanaman tumbuh dengan subur. Sebut saja temulawak, kunir, sambiloto, jahe, kencur, sirih maupun tempuyung. Ternyata, tanaman tersebut bias dimanfaatkan menjadi bahan ramuan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit.
Nah, itulah yang membuat hendra yauw, pengobat herbal atau herbalis, terinspirasi untuk meracik tanaman tersebut menjadi ramuan tradisional. Sehingga, obat tanpa bahan kimia itu bisa untuk menyembuhkan masyarakat yang terserang penyakit.
Meski tergolong tidak memiliki latar belakang pendidikan mengenai ilmu kesehatan, Hendra tetap yakin bahwa tanaman itu bisa dijadikan resep yang mujarab. “dan, ternyata memang bisa, “kata Hendra.
Sekitar 20 tahun lebih dia bersinggungan dengan dunia tersebut. Kala itu, sekitar tanhun 1980-an, Hendra belajar meramu obat-obatan tradisional dari Bapaknya. “bisa dibilang, belajar ramuan ini turun temurun. Dari nenek moyang hingga ke bapak saya dan terakhir saya sendiri, “tuturnya.
Berbagai ramuan berhasil diproduksinya. Diantaranya, obat untuk diabet, kolesterol, liver dan asam urat. Selain itu, Hendra mampu meracik obat untuk penyakit DBD, impotent, tumor kanker, jantung koroner dan HIV/AIDS.
Untuk saat ini, pria kelahiran semarang tersebut berkonsentrasi ingin menambah daya tanah tubuh ODHA (orang hidup dengan HIV/AIDS). “saya ingin sekali membantu orang yang terkena HIV/AIDS. Sebab, obat untuk menyembuhkan penyakit itu, sampai dengan saat ini belum ditemukan. Yang bisa adalah obat penambah stamina, “ungkap duda dua anak tersebut.
Karenanya, pada tahun 2007 lalu, dia melakukan penelitian terhadap ODHA. Menurutnya, orang yang hidup dengan HIV cenderung sudah makan, badan tidak terlihat segar dan mudah loyo.
Sehingga, saya perlu membuat resep untuk mereka. Kebetulan, saya memiliki ramuan untuk menambah daya tahan tubuh, menyehatkan badan dan memperpanjang umur,”jelasnya. “sehingga, ketika ramuan itu saya berikan ke ODHA, ternyata banyak yang berhasil, “sambungnya.
Untuk membuat obat tanpa bahan pengawet tersebut, komposisi ramuan harus tepat. Tidak boleh berlebihan ataupun kekurangan. Bahan itu berasal dari tanaman sambiloto, temulawak, kunir dan sirih merah. “jadi, kita tidak boleh mensia-siakan tanaman yang ada di sekitar kita. Sebab, seluruhnya banyak manfaatnya, “tandasnya.
Ketika itu, dia juga pernah diundang ke Departemen Kesehatan RI untuk memaparkan hasil temuannya soal jamu untuk menambah daya tahan tubuh (CD4) dengan cepat. Jamu itulah yang kemudian diberikan pada ODHA. Produk jamu herbalnya berbentuk kapsul yang diberi label “sehat badan Ching lung poo san”. Ini merupakan prestasi yang saya miliki, terangnya. (arif Muhammad iqbal-64, Koran suara merdeka)









